Sabtu, 17 Maret 2012

tugas softskill B.Indonesia


Tugas softskill
Selasa, 17/01/2012 07:19 WIB
6 Penyebab Gagalnya Bisnis Waralaba
Angga Aliya: detikFinance

Detikcom - Jakarta, Banyak orang menyangka berbisnis waralaba merupakan langkah pasti menuju sukses. Tapi pada kenyataannya, banyak alasan yang membuat bisnis waralaba berakhir tidak seperti yang diperkirakan.
Dalam artikel yang dikutip dari investopedia, Selasa (16/1/2012) ini, kita akan melihat beberapa pertimbangan yang bisa anda kaji sebelum trerjun langsug ke bisnis waralaba.
1.      Modal awal dan royalti waralaba yang cukup tinggi
Modal  awal dan franchise fee bisa sangat mempengaruhi laba penyewa bisnis waralaba. Sebagai contoh, jika anda ingin membuka waralaba MCDonald’s, anda harus punya lokasi sendiri ( sewa ataupun milik ), belum lagi royalti waralaba sekitar rp 405juta (US$45.000) untuk memegang hak waralabaselama 20 tahun, setelah masanya habis maka bisa diperpanjang.
Jika dihitung-hitung secara total, biaya yang anda harus keluarkan untuk membuka sebuah restoran cepat saji McDonald’s berkisar antara Rp 4,5 miliar sampai Rp 14,4miliar.
Yang paling merepotkan adalah, franchise fee yang harus disetorkan per tahun. Setiap tahun, pemegang pemegang waralaba harus menyetorkan 12,5% omzetnya ke pemilik waralaba. Jadi, berapapun omzet anda atau sebaik apapun bisnis, anda akan terus terikat dengan peraturan ini.
Ongkos sewa tahunan ini merupakan syarat paling standar dalam dunia waralaba. Bahkan, burger King meminta tambahan 4,5% jika ongkos waralabanya mencapai Rp 450juta, sama seperti Dunkin’Dunuts yang meminta tambahan 5,9% untuk franchise fee di kisaran Rp 360-720juta tergantung lokasi.
Dikurangi gaji karyawan, uang makan dan pajak, bisa terlihat bahwa memang lisensi waralaba tidak semudah seperti kelihatannya.
2.      Biaya Bahan Baku yang mahal
Untuk anda bisa tetap berbisnis, kebanyakan pemilik waralaba memaksa poara pemegang lisensinya untuk membeli bahan baku dari pensuplainya yang biasanya masih ada hubungan spesial dengan si pemilik waralaba. Biasanya, harga yang ditetapkan oleh pensuplai ini lebih tinggi ketimbang harga pasar.

Bahkan, beberapa pemilik waralaba makanan cepat saji mematok5-10% lebih tinggi dari harga pasaruntuk produk-produk seperti sayuran, tomat atau bahan baku lainnya. Padahal, sayuran tetap sayuran yang harganya biasanya hampir sama, tapi ini menjadi salah satu cara si pemilik waralaba menggenjot  laba.
Jangan sekali-sekali anda membatalkan pesana bahan baku dari si pemilik waralaba, karena bukan tidak mungkin ia kan memutus kontrak anda di tengah jalan sehingga anda tak lagi bisa berbisnis.
3.      Minimnya pendanaan
Kebanyakan pemegang lisensi waralaba tidak punya akses ke pendanaan yang baik.  Jadi, jika butuh tambahan modal, kebanyakan pemegang lisensi waralaba harus merogoh kocek sendiri.
Beberapa pemilik waralaba mengetahui hal ini dengan baik sehingga memberikan opsi cicilan untuk franchise fee, modal awal, bahan baku dan peralatan untuk memulai waralaba. Situasi seperti ini biasanya lebih menarik para calon pemegang lisensi waralaba.
4.      Minimnya kontrol lokasi
Beberapa waralaba punya aturan untuk ytidak terlalu banyak membuka tokonya di sebuah kota demi menghindari saturasi pasar dan omzet yang anjlok. Akan tetapi banyak juga waralaba yang membuka toko sebanyak mungkin di sebuah kota demi menggenjot penjualan.
Itulah mengapa bukanlah sesuatu hal yang aneh jika anda melihat lima gerai McDonald dalam radius 8km karena perusahaannya berusaha untuk meraup setiap uang yang ada di wilayah tersebut. pemilik waralaba memang memiliki keuntungan yang banyak, tapi yang menderita adalah gerai si pemegang lisensi waralaba, karena tiap muncul  satu waralaba dilokasi yang sama, maka omzetnya bisa turun sampai setengah.
5.      Kurang kreatif
Sebuah waralaba biasanya mewajibkan keseragaman. Mulai dari dekorasi toko, papan reklame, produk yang ditawarkan sampai seragam pelayanannya harus sama.  Untuk orang yang menyukai kreatifitas, ini bisa membuat frustasi.
Jadi, jika anda yang terbiasa menjadi bos bagi diri sendiri, keseragaman ini mungkin cukup sulit dilakukan. Mungkin anda tidak cocok untuk berbisnis waralaba.



6.      Pemilik waralaba kurang mengenal daerah baru
Anda pasti sering mendengar kalau kunci sukses dalam berbisnis adalah lokasi, lokasi, lokasi. Pasalnya, lokasi memang sangat menentukan sukses atau gagalnya sebuah bisnis.
Intinya, jika anda tidak menemukan lokasi yang tidak tepat untuk membuka waralaba, anda pasti kesulitan, karena si pemilik waralaba pun tidak bisa banyak membantu anda dalam menentukan lokasi.
Contohnya waralaba pizza. Anda tidak bisa dengan mudah membuka gerai pizza di sebuah daerah yang cukup ramai penduduk. Tetaoi, anda juga harus perhatikan tingkat usia di lokasi tersebut.
Salah besar jika anda membuka gerai pizza di lingkungan ramai tapi isinya orang tua. Lebih baik anda cari lingkungan yang lebih sepi tapi isinya anak muda semua.
Riset seperti ini lah yang biasanya tak dimiliki oleh si pemilik waralaba. Si pemegang lisensi waralaba lah yang bertugas untuk melakukan riset ini sendirian tanpa bantuan kantor pusat.
Kesimpulan:
Menjalankan bisnis waralaba adalah sebuah keputusan serius yang harus dilaksanakan dengan hati-hati. Sebelum anda memyewa waralaba, banyak belajarlah mengenai perusahaan yang jadi target, begitu pula dengan produk dan lokasinya. Karena bahkan dengan produk dan lokasi yang baik, belum tentu anda bisa meraup laba. Jadi, pastikan adan tahu resikonya sebelum membuka waralaba.

Sumber : detikcom








Komentar: mestinya penulisan angka dalam uang yang baik adalah Rp 450.000.000,- bukan Rp 450juta. Rp 14.400.000.000,- bukan Rp 14,4 miliar dan selanjutnya. Harusnya kata ulang seperti “ pemegang pemegang waralaba” yang baik seprti: “ pemegang-pemegang waralaba”. Pada kata “Jadi, berapapun omzet anda atau sebaik apapun bisnis, anda akan terus terikat dengan peraturan ini.” Akan lebih tepat jika ditulis “ jadi, berapapun omzet atau sebaik apapun saham anda, anda akan terus terikat dengan peraturan ini.” Karena itu akan lebih jelas dan lebih mudah untuk dimengerti. Pada kata “Padahal, sayuran tetap sayuran yang harganya biasanya hampir sama,” ini juga akan lebih baik jika ditulis ”Padahal, sayuran tetap sayuran yang harga biasanya hampir sama”. Pada kalimat “Anda pasti sering mendengar kalau kunci sukses dalam berbisnis adalah lokasi, lokasi, lokasi.” Akan lebih baik penulisan kata “lokasi” hanya sekali, karena orang-orangpun tahu kata itu berinti pada “lokasi”. Ada salah penulisan kata di kalimat “karena bukan tidak mungkin ia kan memutus” dan “Jadi, pastikan adan tahu resikonya “ harus nya kata “ kan “ itu adalah “akan” dan kata “ adan” adalah “anda” Kata “Itulah mengapa bukanlah sesuatu hal yang aneh” harusnya ditulis “itu bukanlah sesuatu hal yang aneh”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar